Kamis, 01 September 2011

Contoh Teks Sungkeman Bahasa Jawa

Ya lebaran .... saatnya pulang kampung (mudik) bagi yang tinggal di perkotaan. Apalagi bagi yang masih memiliki orang tua, saudara, dan lain-lain. Maka lebaran dijadikan ajang untuk bersilaturahmi dengan orang tua, kakek, nenek, sesepuh, dll...

Kalau beberapa dekade tahun yang lalu, teks sungkeman kepada orang tua atau sesepuh itu panjang dan menggunakan boso kromo. Ini contoh teks sungkeman yang masih saya ingat :

"Ngaturaken sugeng riyadi (pak/bu/mbah), minal aidzin wal waidzin, kulo tiyang enem kathah klenta-klentunipun. Ing dinten riyaya punika kulo nyuwun gunging samodra pangaksami tumrap sedoyo kalepatan kulo. Mugi-mugi kito sedoyo diparingi keslametan saking Gusti Allah SWT"

Biasanya dijawab begini :

"Pada-pada (nak/putu/buyut), aku wong tuwo yo ake salahe...... dst...........dst................"

Minggu, 17 Juli 2011

Nyoba berenang di Kolam Renang Panjatan


(karanganyar-kebumen) Kolam renang ini berada di pinggir jalan Karanganyar - Gombong, tepatnya bersebelahan dengan SDN Panjatan dan RM Jakarta, dan berdepanan dengan lapangan futsal.

Tiket tanda masuk (HTM) anak-anak Rp. 5000,- untuk dewasa Rp. 8500,-. Kolam terdiri untuk anak-anak (0,6 m) dan dewasa (2 m). Air kolam renang tampaknya menggunakan air yang diberi obat / air tanah (sumur / bor).

Kamis, 24 Februari 2011

Tak Bangga Lagi Disebut Pak Tani...

KOMPAS.com — Bertani, bagi Daldiri (67), kini tak ubahnya bak perjudian. Bekal ilmu bercocok tanam ataupun strategi menaksir cuaca tak bisa lagi diandalkan. Cuaca ekstrem dan merebaknya hama membuat bulir-bulir padi di sawah petani hampa. Di tengah harga gabah yang tak berpihak kepada petani, ia merasa dimiskinkan.…

” Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani. Beda dengan 30-an tahun lalu saat banyak orang naik haji dari hasil bertani. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya lebih sering utang kepada tengkulak,” tutur petani di Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu, Selasa (22/2/2011).

Saat ditemui, Daldiri sedang menanam benih padi di sawah seluas setengah bau atau 3.548 meter persegi (m) miliknya (1 bau sama dengan 7.096 meter persegi atau sekitar 0,7 hektar).

Masalah harus utang agar bisa menanam rupanya makin banyak dialami kaum tani. Dono (65), petani di Dusun Mojorejo, Laban, Sukoharjo, Jateng, misalnya. ”Ini ikhtiar kami sebagai petani, tetap bertanam. Coba-coba siapa tahu nasib baik meski harus berutang. Utang saya masih tersisa Rp 1 juta dan belum bisa saya lunasi sampai sekarang,” kata Dono yang baru saja menyemprot tanaman padinya dengan pestisida. Sebelum pulang, ia sempatkan juga mencari rumput untuk pakan sapinya. Meski sudah tiga kali gagal panen, Dono tak kapok kembali menanam padi. Bertani terpaksa dijalani meski terpaksa berutang untuk membeli pupuk serta ongkos tanam dan membajak.

Dono mengaku dapat pinjaman dari seseorang. Dari jumlah utang Rp 1 juta, ia harus mencicil Rp 100.000 per bulan selama 12 kali. Selama tidak ada pemasukan karena padinya gagal panen akibat serangan wereng, serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput, Dono bekerja serabutan untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, seperti menjadi buruh bangunan. Upah Rp 25.000 per hari digunakan untuk makan Rp 15.000 dan disimpan untuk membayar cicilan Rp 10.000.

Dono bercerita, sekarang ini biaya garap untuk satu musim tanam mencapai Rp 2 juta untuk satu patok lahan seluas 5.500 meter. Jika panen bagus, petani bisa memperoleh Rp 10 juta-Rp 12 juta.

Sukimin, petani di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, mengakui, bertanam padi dalam kondisi saat ini rentan terhadap serangan wereng coklat serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Itu sebabnya bertani mirip orang berjudi.

”Niki separone kados wong lotere. Wong tani wis mblenger (Setengahnya kami ini seperti berjudi. Petani sudah muak) karena gagal terus. Rata-rata petani pasti punya utang untuk modal tanam,” kata Sukimin.

Itu sebabnya tak semua petani masih bersemangat seperti Dono. Ada yang menyerah, membiarkan sawah terbengkalai karena kehabisan modal, sebagaimana dialami petani Dusun Menggungan, Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Para petani di sana memilih menjadi buruh tani, buruh bangunan, atau mencari buah-buahan dari kampung dan dijual lagi ke pasar.

Kesulitan hidup yang dihadapi Daldiri mirip dengan Dono dan Sukimin. Saat waktu ashar tiba, Daldiri menepi ke pematang sawah dan mereguk teh pahit yang dibawa Mufaridah (6), cucunya.

Lebih dari 40 tahun, Daldiri bercucur keringat di sawah. Ayah lima anak dan kakek tujuh cucu itu dulu seorang juragan tani di desanya. Luas sawahnya pada medio 1980-an bahkan mencapai 5 hektar (ha). Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan rata-rata petani di eks Karesidenan Banyumas yang kepemilikan lahannya saat ini hanya 0,25 ha hingga 0,5 ha.

”Banyak petani kaya saat itu. Bahkan, karena masih banyak lumbung padi, kami biasa menyimpan sebagian hasil padi untuk dijual lagi saat harga tinggi. Namun, sekarang semuanya diatur tengkulak,” kata Daldiri.

Daldiri ingat betul, 15 tahun lalu, 1 bau sawah miliknya masih menghasilkan gabah 5 ton. Namun, 5 tahun terakhir, produktivitas sawah menyusut jadi 3 ton. Penyebabnya serangan hama wereng batang coklat dan tikus yang kian ganas.

Musim tanam hujan yang dimulai September lalu pun, ia sampai tiga kali tanam ulang karena benih padi yang sudah ditanam diserang wereng saat berumur 25 hari. Saat musim panen rendeng ini, Daldiri menjual gabahnya Rp 2.400 per kilogram. Dari 3.500 meter sawah miliknya, Daldiri mengaku hanya meraup pendapatan sekitar Rp 3,2 juta.

Namun, ia harus menyisihkan Rp 1,5 juta untuk modal tanam musim selanjutnya. Selain itu, ia juga harus membayar Rp 700.000 ke kios, koperasi unit desa, dan rentenir untuk menutup utang pupuk, pestisida, dan ongkos bajak. Sisanya hanya Rp 1 juta. Artinya, pendapatan Daldiri selama bertani pada September-Januari hanya Rp 250.000 per bulan.

Kondisi inilah yang membuat Daldiri dan Saniyem (63), istrinya, menjual satu per satu petak sawah mereka sejak 10 tahun terakhir. Mereka bahkan hanya bisa membagi sawah 1 hektar sebagai warisan kepada lima anaknya masing-masing seluas 2.000 meter persegi. ”Kini sisa utang saya masih Rp 7 juta. Semoga bisa dilunasi sebelum saya meninggal,” katanya.

Pemiskinan serupa dialami Guyub Winaryo (54), petani di Desa Sukawera Kidul, Kecamatan Patikraja, Banyumas. ”Pada 1980-an, setiap kali panen, orangtua saya selalu membeli emas dan sawah baru. Dulu, untuk membeli emas 3 gram hanya butuh gabah 1 kuintal. Sekarang 1 kuintal gabah belum bisa beli 1 gram (asumsi harga emas Rp 330.000 per gram),” katanya.

Setelah era pertanian pupuk kimia, tabiat tanah pun berubah tak ramah. Iklim ekstrem kini membuyarkan irama alam yang pemurah. Hama mengganas tak terbasmi, sedangkan biaya produksi kian tinggi....

Minggu, 20 Februari 2011

Goa Petruk (Kebumen)


[dokumentasi Potlot Adventure] Cerita mengenai suatu lokasi obyek wisata yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat suasananya menjadi nyaman dan indah sehingga wisatawan yang datang merasa betah di tempat tersebut. Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan obyek wisata juga perlu diinformasikan dengan jelas sehingga mudah dimengerti maksud dan tujuan suatu lokasi wisata. Dalam kegiatan wisata ini suatu penawaran kepada para wisatawan untuk mengunjungi obyek wisata alam yaitu Goa Petruk yag terletak di Desa Candirengga, Kecamatan Ayah Luas areal wisata goa alami ini 0,51 hektar. Sarana perhubungan untuk menuju ke lokasi terdapat angkutan umum atau dengan kendaraan pribadi, kondisi jalan beraspal dan mudah dicapai kira-kira 25 kilometer dari Kota Kebumen. Pada jalur ini juga terdapat obyek wisata Goa Jatijajar dan Pantai Logending yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Terletak kira – kira 7 km dari Goa Jatijajar. Nama Petruk berasal dari salah satu tokoh pewayangan yang mempunyai hidung panjang dan ia merupakan ponokawan yang setia. Terdapat stalaktit dan stalakmit yang masih asli bentuknya menyerupai payudara, tugu pancuran, baju putih dan semar. Untuk dapat masuk ke goa ini disediakan alat-alat seperti headlamp, spatuboot, baju tahan air (coverall), helm pelindung kepala. Penelusuran goa dapat dilintasi dengan jarak panjang sejauh 664 m dan jarak pendek 100 m . Pemandu wisata akan selalu mendampingi dan membawakan lampu charge sebagai penerangnya

Lokasi : Gua Petruk
Desa / Kelurahan : Candirenggo
Kecamatan : Ayah
Kabupaten : Kebumen
Jarak tempuh : 7 km dai Jatijajar / 180 km Kebumen – Semarang
Waktu kunjungan : Setiap hari
Telephone : Uyip ( Pimpinan Obwis ) : 081327301965

Fasilitas Pendukung :
Fasilitas didalam obyek wisata :
1.Taman parkir
2.Mushola
3.Warung makan

Daya Tarik :
1.Lokasi untuk panjat tebing
2.Tracking
3.Penelusuran Gua

Fasilitas diluar obyek wisata :
1.Home Stay
2.Transportasi : Gombong-Jatijajar- Petruk- Logending.

Fasilitas masuk Gua :
1.Lampu
2.Headlamp
3.Helm
4.Sepatu boot
5.Pemandu Gua

Sabtu, 05 Februari 2011

UGM Peringkat 7 di ASEAN, UI Peringkat 8 dan ITB Peringkat 15

Bagi yang mau cari perguruan tinggi atau mau nguliahin anak, nih info yang dapat sebagai referensi :

=========

VIVAnews - Universitas Gajah Mada Yogyakarta meraih peringkat ke 7 dari 100 daftar universitas terbaik se ASEAN versi Majalah Webomatric edisi Januari 2011.

Peringkat ke 7 sebagai salah satu unversitas terbaik ini meningkat satu tingkat dari rangking tahun 2010 yang berada di rangking nomor 8 universitas terbaik se Asean. Sedangkan Universitas Indonesia menduduki rangking 8 dan ITB menempati peringkat ke 15.

"Peringkat ke 7 universitas terbaik se Asean versi Webomatric edisi Januari 2011 ini juga menunjukkan UGM sebagai universitas terbaik di Indonesia. Untuk terbaik Indonesia UGM kembali berada di peringkat pertama setelah tiga tahun sebelumnya juga berada pada posisi teratas," kata Kepala Bidang Humas dan Keprotokolan UGM, Suryo Baskoro, Jumat, 4 Januari 2011

Baskoro menyatakan untuk peringkat teratas di Asia Tenggara diduduki oleh National University of Singapore, peringkat teratas Asia adalah National Taiwan University, sementara peringkat terbaik dunia dipegang oleh Massachusetts Institute of Technology.

"Jika di Asia Tenggara UGM pada peringkat ke 7, maka dalam kawasan Asia, UGM menempati peringkat ke 69 dan peringkat ke 593 di tingkat dunia," ujarnya.

Menurut Baskoro Webometrics adalah lembaga yang berafiliasi dengan Dewan Riset Nasional Spanyol, yang dua kali dalam setahun mengeluarkan daftar peringkat, yakni pada bulan Januari dan Juli. Penghitungan peringkat Webometrics ini didasarkan pada keunggulan dalam publikasi elektronik (e-publication) yang terdapat dalam domain web masing-masing perguruan tinggi.

"Penilaian diukur dari empat indikator, yakni size (jumlah halaman publikasi elektronik yang terdapat dalam domain web perguruan tinggi), visibility (jumlah halaman lain yang mencantumkan URL domain perguruan tinggi yang dinilai), rich files (relevansi sumber elektronik dengan kegiatan akademik dan publikasi perguruan tinggi tersebut), dan scholar (jumlah publikasi dan sitasi bermutu pada domain perguruan tinggi). Data yang dikumpulkan diolah dan digunakan untuk memeringkat lebih kurang 12.000 perguruan tinggi dari seluruh dunia," paparnya.

Lebih lanjut Baskoro menyatakan capaian yang telah diraih UGM membuktikan bahwa publikasi media dinilai sebagai yang paling komprehensif dan paling kaya di negeri ini.

"Hal ini patut di syukuri UGM sebagai yang terbaik di Indonesia, namun demikian namun peringkat tersebut bukanlah tujuan UGM. Upaya-upaya yang dilakukan UGM untuk meningkatkan kualitas segala aspek kehidupan kampus, sesuai dengan visi UGM," pungkasnya.

Laporan: Juna Sanbawa | Yogyakarta

• VIVAnews