Kamis, 29 Maret 2012

[Indonesia-Rising] Permainan Benih Impor Sengsarakan Petani - Kegagalan Padi Hibrida

Benih-benih padi hibrida yang diimpor pemerintah untuk program Bantuan Langsung Bibit Unggul banyak yang bermasalah. Ratusan ribu hektare sawah yang ditanami padi-padi itu kerap mengalami gagal panen. Meski begitu, proyek impor benih ini tetap berjalan. Ada yang mengambil untung? --------

Di jalan setapak di tengah hamparan sawah yang menghijau, Purnomo Singgih, 46 tahun, dengan mantel biru dan sepeda motor bebeknya melaju menembus hujan deras.

Ketika ditemui GATRA, Minggu sore pekan lalu, ia baru saja pulang mengontrol sawahnya seluas 2,5 hektare di pinggir jalan raya Kebumen-Gombong. "Mulai masa tanamnya baru November kemarin," katanya kepada GATRA dengan logat Banyumas yang kental.

Purnomo adalah Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera di Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Gapoktan ini menaungi 264 petani dari 11 desa, kendati yang aktif hanya 40-50 orang. Setiap bulan pada tanggal 5, mereka berkumpul di rumah Purnomo yang menjadi markas, untuk membahas berbagai masalah pertanian.

Topik hangat pada pertemuan kali ini adalah kabar akan turunnya bantuan benih padi hibrida untuk 50 hektare lahan pada musim tanam mendatang. Namun para petani sama sekali tidak antusias atas rencana ini. Rupanya mereka masih trauma dengan benih-benih hibrida.

Terakhir, mereka menanamnya pada Juli-Agustus 2011, dan hasilnya gagal total. "Pertama, rentan penyakit seperti wereng, blas, segala macam. Kedua, gabuk atau kopong nggak ada isinya. Ketiga, nilai jualnya rendah karena rendemen rendah," tutur Purnomo.

Pengertian bantuan pun sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Sebab para petani masih harus membeli benih hibrida itu. Harganya juga mahal, Rp 50.000 per kilogram, setelah mendapat subsidi dari pemerintah. Padahal, harga benih padi lokal hanya Rp 7.000 per kilogram.

Karena itu, para petani di Gapoktan Makmur Sejahtera sepakat untuk menolaknya. Musim ini, mereka sama sekali tidak menanam padi hibrida. "Ini sudah masuk kotak," kata Purnomo, seraya menunjukkan sekantong benih padi hibrida Intani-2 yang tak terpakai. Purnomo mengaku, dari segi kualitas, sebenarnya Intani-2 bagus. "Enak, pulen, dan wangi," katanya. Sayang, padi ini rentan hama seperti wereng, sundep, dan blas.

Meski banyak gagalnya, pemerintah seperti tidak kapok untuk terus menggunakan benih-benih impor tersebut. Bahkan, pada 2012, Kementan mengusulkan penambahan alokasi anggaran pengadaan benih hibrida sebesar Rp 252 milyar untuk areal seluas 300.000 hektare. Keruan saja, usulan ini ditolak Komisi Pertanian DPR-RI.

Anggota Komisi Pertanian DPR dari Fraksi Golkar, Siswono Yudo Husodo, mengatakan bahwa kemampuan produksi benih hibrida di dalam negeri hanya 36,79% atau hanya untuk kapasitas penggunaan seluas 107.000 hektare. Sedangkan untuk mencapai 300.000 hektare, dipastikan harus dipenuhi dari impor yang biasanya berasal dari Cina. "Sebaiknya dana itu tidak digunakan untuk impor benih hibrida, tapi untuk pengadaan benih nonhibrida di dalam negeri," kata Siswono.

Siswono menyatakan, Fraksi Golkar lebih setuju jika dana itu dialihkan untuk pembelian benih unggul nonhibrida. Apalagi, benih padi hibrida terhitung mahal, mencapai Rp 50.000 per kilogram. Sedangkan benih padi unggul nonhibrida hanya Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram. Rumor yang beredar menyebutkan, para anggota dewan juga keberatan lantaran penyebaran benih-benih hibrida ini tidak merata.

Kabarnya, Golkar sempat komplain karena beberapa daerah, seperti di Sulawesi Selatan yang merupakan basis Golkar, kesulitan mendapatkan benih itu. Belakangan, menurut sumber GATRA, ketahuan bahwa penyebaran benih itu kebanyakan dilakukan di daerah yang ketua gapoktannya berafiliasi ke partai tertentu. "Ya, ke partainya Pak Menteri," kata sumber itu. Maksudnya tentu Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Penyebaran bibit-bibit hibrida ini, kata sumber itu, menjadi bagian dari upaya PKS memperkuat basisnya di Jawa. Ini memang merupakan amanat musyawarah kerja nasional "partai dakwah" itu di Yogyakarta, medio Februari 2011. Wakil Sekjen PKS, Mahfudz Siddiq, ketika itu mengatakan, dalam menghadapi Pemilu 2014, PKS ingin memperkokoh basis dukungan di Pulau Jawa.

Karenanya, kata sumber itu, meski tersendat-sendat, proyek pengadaan benih hibrida ini terus dilakukan Kementan. Pengadaan benih ini dilakukan lewat dua BUMN, yaitu PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani. Pada 2011, SHS mendapat kontrak senilai Rp 496,69 milyar untuk proyek ini. Sedangkan Pertani mendapat kontrak senilai Rp 285,182 milyar. Pada tahun ini, telah disiapkan dana Rp 938,25 milyar khusus untuk pengadaan benih padi.


M. Agung Riyadi, Sandika Prihatnala, Haris Firdaus, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/10, terbit Kamis, 12 Januari 2012)

Kamis, 01 September 2011

Contoh Teks Sungkeman Bahasa Jawa

Ya lebaran .... saatnya pulang kampung (mudik) bagi yang tinggal di perkotaan. Apalagi bagi yang masih memiliki orang tua, saudara, dan lain-lain. Maka lebaran dijadikan ajang untuk bersilaturahmi dengan orang tua, kakek, nenek, sesepuh, dll...

Kalau beberapa dekade tahun yang lalu, teks sungkeman kepada orang tua atau sesepuh itu panjang dan menggunakan boso kromo. Ini contoh teks sungkeman yang masih saya ingat :

"Ngaturaken sugeng riyadi (pak/bu/mbah), minal aidzin wal waidzin, kulo tiyang enem kathah klenta-klentunipun. Ing dinten riyaya punika kulo nyuwun gunging samodra pangaksami tumrap sedoyo kalepatan kulo. Mugi-mugi kito sedoyo diparingi keslametan saking Gusti Allah SWT"

Biasanya dijawab begini :

"Pada-pada (nak/putu/buyut), aku wong tuwo yo ake salahe...... dst...........dst................"

Minggu, 17 Juli 2011

Nyoba berenang di Kolam Renang Panjatan


(karanganyar-kebumen) Kolam renang ini berada di pinggir jalan Karanganyar - Gombong, tepatnya bersebelahan dengan SDN Panjatan dan RM Jakarta, dan berdepanan dengan lapangan futsal.

Tiket tanda masuk (HTM) anak-anak Rp. 5000,- untuk dewasa Rp. 8500,-. Kolam terdiri untuk anak-anak (0,6 m) dan dewasa (2 m). Air kolam renang tampaknya menggunakan air yang diberi obat / air tanah (sumur / bor).

Kamis, 24 Februari 2011

Tak Bangga Lagi Disebut Pak Tani...

KOMPAS.com — Bertani, bagi Daldiri (67), kini tak ubahnya bak perjudian. Bekal ilmu bercocok tanam ataupun strategi menaksir cuaca tak bisa lagi diandalkan. Cuaca ekstrem dan merebaknya hama membuat bulir-bulir padi di sawah petani hampa. Di tengah harga gabah yang tak berpihak kepada petani, ia merasa dimiskinkan.…

” Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani. Beda dengan 30-an tahun lalu saat banyak orang naik haji dari hasil bertani. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya lebih sering utang kepada tengkulak,” tutur petani di Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu, Selasa (22/2/2011).

Saat ditemui, Daldiri sedang menanam benih padi di sawah seluas setengah bau atau 3.548 meter persegi (m) miliknya (1 bau sama dengan 7.096 meter persegi atau sekitar 0,7 hektar).

Masalah harus utang agar bisa menanam rupanya makin banyak dialami kaum tani. Dono (65), petani di Dusun Mojorejo, Laban, Sukoharjo, Jateng, misalnya. ”Ini ikhtiar kami sebagai petani, tetap bertanam. Coba-coba siapa tahu nasib baik meski harus berutang. Utang saya masih tersisa Rp 1 juta dan belum bisa saya lunasi sampai sekarang,” kata Dono yang baru saja menyemprot tanaman padinya dengan pestisida. Sebelum pulang, ia sempatkan juga mencari rumput untuk pakan sapinya. Meski sudah tiga kali gagal panen, Dono tak kapok kembali menanam padi. Bertani terpaksa dijalani meski terpaksa berutang untuk membeli pupuk serta ongkos tanam dan membajak.

Dono mengaku dapat pinjaman dari seseorang. Dari jumlah utang Rp 1 juta, ia harus mencicil Rp 100.000 per bulan selama 12 kali. Selama tidak ada pemasukan karena padinya gagal panen akibat serangan wereng, serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput, Dono bekerja serabutan untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, seperti menjadi buruh bangunan. Upah Rp 25.000 per hari digunakan untuk makan Rp 15.000 dan disimpan untuk membayar cicilan Rp 10.000.

Dono bercerita, sekarang ini biaya garap untuk satu musim tanam mencapai Rp 2 juta untuk satu patok lahan seluas 5.500 meter. Jika panen bagus, petani bisa memperoleh Rp 10 juta-Rp 12 juta.

Sukimin, petani di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, mengakui, bertanam padi dalam kondisi saat ini rentan terhadap serangan wereng coklat serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Itu sebabnya bertani mirip orang berjudi.

”Niki separone kados wong lotere. Wong tani wis mblenger (Setengahnya kami ini seperti berjudi. Petani sudah muak) karena gagal terus. Rata-rata petani pasti punya utang untuk modal tanam,” kata Sukimin.

Itu sebabnya tak semua petani masih bersemangat seperti Dono. Ada yang menyerah, membiarkan sawah terbengkalai karena kehabisan modal, sebagaimana dialami petani Dusun Menggungan, Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Para petani di sana memilih menjadi buruh tani, buruh bangunan, atau mencari buah-buahan dari kampung dan dijual lagi ke pasar.

Kesulitan hidup yang dihadapi Daldiri mirip dengan Dono dan Sukimin. Saat waktu ashar tiba, Daldiri menepi ke pematang sawah dan mereguk teh pahit yang dibawa Mufaridah (6), cucunya.

Lebih dari 40 tahun, Daldiri bercucur keringat di sawah. Ayah lima anak dan kakek tujuh cucu itu dulu seorang juragan tani di desanya. Luas sawahnya pada medio 1980-an bahkan mencapai 5 hektar (ha). Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan rata-rata petani di eks Karesidenan Banyumas yang kepemilikan lahannya saat ini hanya 0,25 ha hingga 0,5 ha.

”Banyak petani kaya saat itu. Bahkan, karena masih banyak lumbung padi, kami biasa menyimpan sebagian hasil padi untuk dijual lagi saat harga tinggi. Namun, sekarang semuanya diatur tengkulak,” kata Daldiri.

Daldiri ingat betul, 15 tahun lalu, 1 bau sawah miliknya masih menghasilkan gabah 5 ton. Namun, 5 tahun terakhir, produktivitas sawah menyusut jadi 3 ton. Penyebabnya serangan hama wereng batang coklat dan tikus yang kian ganas.

Musim tanam hujan yang dimulai September lalu pun, ia sampai tiga kali tanam ulang karena benih padi yang sudah ditanam diserang wereng saat berumur 25 hari. Saat musim panen rendeng ini, Daldiri menjual gabahnya Rp 2.400 per kilogram. Dari 3.500 meter sawah miliknya, Daldiri mengaku hanya meraup pendapatan sekitar Rp 3,2 juta.

Namun, ia harus menyisihkan Rp 1,5 juta untuk modal tanam musim selanjutnya. Selain itu, ia juga harus membayar Rp 700.000 ke kios, koperasi unit desa, dan rentenir untuk menutup utang pupuk, pestisida, dan ongkos bajak. Sisanya hanya Rp 1 juta. Artinya, pendapatan Daldiri selama bertani pada September-Januari hanya Rp 250.000 per bulan.

Kondisi inilah yang membuat Daldiri dan Saniyem (63), istrinya, menjual satu per satu petak sawah mereka sejak 10 tahun terakhir. Mereka bahkan hanya bisa membagi sawah 1 hektar sebagai warisan kepada lima anaknya masing-masing seluas 2.000 meter persegi. ”Kini sisa utang saya masih Rp 7 juta. Semoga bisa dilunasi sebelum saya meninggal,” katanya.

Pemiskinan serupa dialami Guyub Winaryo (54), petani di Desa Sukawera Kidul, Kecamatan Patikraja, Banyumas. ”Pada 1980-an, setiap kali panen, orangtua saya selalu membeli emas dan sawah baru. Dulu, untuk membeli emas 3 gram hanya butuh gabah 1 kuintal. Sekarang 1 kuintal gabah belum bisa beli 1 gram (asumsi harga emas Rp 330.000 per gram),” katanya.

Setelah era pertanian pupuk kimia, tabiat tanah pun berubah tak ramah. Iklim ekstrem kini membuyarkan irama alam yang pemurah. Hama mengganas tak terbasmi, sedangkan biaya produksi kian tinggi....